Sunday 8 February 2026 - 13:47
Perlawanan terhadap Musuh adalah Manifestasi Kekuatan Wilayah Faqih

Hawzah/ Hujjatul Islam wal Muslimin Farrokhfal menegaskan bahwa setiap kali bangsa Iran, dengan bertumpu pada persatuan dan kohesi internal, menghadapi tuntutan berlebihan para musuh, pihak lawan akhirnya selalu dipaksa mundur. Ia menilai bahwa prioritas utama saat ini adalah menjaga soliditas dan kesatuan nasional.

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Ahmad Farrokhfal dalam peringatan kelahiran Imam Zaman (afs) dan prosesi pemakaian sorban bagi sejumlah santri Hawzah Ilmiyah di Kabupaten Khoy, Iran menegaskan bahwa sorban merupakan simbol keagamaan dan historis. Ia menyebutkan bahwa pakaian ini adalah warisan Nabi Muhammad (saww), dan dalam sejarah tercatat bahwa orang pertama yang dikenakan sorban oleh Rasulullah adalah Amirul Mukminin Imam Ali (as).

Ia kemudian mengucapkan selamat datangnya Dekade Fajr, seraya menekankan bahwa peringatan tahun ini berlangsung pada saat Republik Islam Iran telah memasuki tahun ke‑47 capaian dan keberhasilannya dalam menegakkan agama, menyebarkan budaya Ahlulbait (as), serta menghidupkan sunnah Nabi di negara ini.

Penegasan tentang Kelanjutan Wilayah Faqih sebagai Penerus Kepemimpinan Para Maksum

Hujjatul Islam wal Muslimin Ahmad Farrokhfal menegaskan bahwa Republik Islam Iran merupakan sebuah sistem yang kuat dengan Wilayah Faqih sebagai poros utamanya. Menurutnya, kepemimpinan ini berada dalam kesinambungan dengan wilayah Ilahi, yakni kepemimpinan Tuhan, Rasulullah, dan Ahlulbait (as), dan menjadi kelanjutan dari garis kepemimpinan suci tersebut. Berkat keberkahan wilayah ini, sistem pemerintahan mampu berdiri teguh menghadapi berbagai bentuk permusuhan.

Keteguhan Sejarah Republik Islam dalam Perang Delapan Tahun Meski Timur dan Barat Bersatu

Ulama hawzah ini juga menyinggung rekam jejak ketahanan Republik Islam dalam menghadapi tekanan eksternal. Ia mengingatkan bahwa selama 47 tahun terakhir, termasuk pada masa ketika blok Timur dan Barat bersatu mendukung Saddam dengan persenjataan dan fasilitas, Republik Islam tetap mampu bertahan. Keteguhan itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa bangsa Iran juga akan berdiri kuat menghadapi berbagai konspirasi di masa kini.

Peringatan kepada Musuh: Setiap Konspirasi Akan Dibalas dengan Kekuatan

Ia memperingatkan para musuh Republik Islam bahwa bangsa Iran tidak akan menyerahkan sejengkal pun dari tanah suci negara tersebut. Ia menegaskan bahwa sebagaimana Iran tidak memiliki ambisi terhadap wilayah negara lain, demikian pula tidak ada ruang bagi siapa pun untuk menyentuh tanah Republik Islam. Menurutnya, kekuatan ini adalah kekuatan sistem, kekuatan Republik Islam, dan kekuatan Wilayah. Ia menambahkan bahwa para musuh tidak akan mampu sedikit pun melemahkan tiang baja tenda Islam, yakni kepemimpinan Wilayah.

Peran Historis Ulama dalam Menghubungkan Umat dengan Wilayah dan Imamah

Ia kemudian menyinggung hadis mulia “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi”, dan menegaskan bahwa para ulama merupakan hujjah Tuhan bagi masyarakat serta menjadi jembatan penghubung antara umat dengan wilayah. Menurutnya, jika umat tidak dapat berhubungan langsung dengan Imam Zaman (afs), maka keterhubungan itu terjalin melalui para marja dan ulama yang tidak gentar kepada siapa pun selain Allah.

Di bagian akhir, ia merujuk pada ayat “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama” (QS. Fathir: 28), dan menambahkan bahwa ulama sejati adalah mereka yang hanya takut kepada Allah dan menyampaikan risalah Ilahi dengan keberanian. Ia menekankan bahwa peran ini tidak terbatas pada mereka yang mengenakan pakaian keulamaan; terkadang seorang alim hadir dalam balutan akademisi, atau dalam lingkungan ilmiah dan spiritual lainnya. Yang terpenting, menurutnya, adalah menjaga hubungan dengan wilayah dan berjalan di jalur kepemimpinan tersebut.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha